BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sosial kemanusian, pendidikan bukan hanya sebagai suatu
upaya untuk melahirkan proses pembelajaran yang bermaksud membawa manusia
menjadi sosok yang potensial secara intelektual (intellectual-oriented) melalui proses transfer of knowledge yang kental. Akan tetapi, proses tersebut
juga bermuara pada upaya pembentukan masyarakat yang berwatak, beretika, dan
estetika melalui proses transfer of
values yang terkandung didalamnya.
Muatan upaya yang dibawa dalam proses pendewasaan manusia seperti yang
dimaksud diatas, merupakan proses yang padu dan komprehensif. Masyarakat ingin
diarahkan menjadi masyarakat yang responsif terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK), namun tidak meniscayakan aspek normatif yang
begitu jelas pula peranannya dalam menentukan suatu model kehidupan sosial yang
humanis.
Dalam konteks ini, tampak nyata bahwa tujuan pendidikan khususnya
pendidikan Islam berupaya untuk mengembangkan setiap aspek kehidupan manusia.
Aspek-aspek tersebut meliputi: spiritual, intelektual, imajinasi, keilmiahan.[1] Hal itu
juga berarti pula bahwa beban yang dipikul oleh lembaga pendidikan Islam akan
semakin berat. Apalagi jika dikaitkan dengan tujuan pendidikan Islam yang yang
bermaksud membahagiakan manusia di dunia dan akhirat.
Memasuki abad ke-21, berbagai perkembangan dan perubahan telah dan sedang
terjadi dengan sangat cepat dalam semua aspek kehidupan manusia. Perkembangan
sains-teknologi, penyebaran arus informasi dan perjumpaan budaya dapat
menggiring kecenderungan masyarakat untuk berpikir rasional, bersikap inklusif
dan berperilaku adaptif. Mereka semacam dihadapkan pada berbagai pilihan baru
yang menarik dan cukup menggoda untuk mengikutinya. Masyarakat sekarang begitu
intens terhadap perubahan-perubahan baik menyangkut pola pikir, pola hidup,
kebutuhan sehari-hari hingga proyeksi kebutuhan masa depan. Kondisi demikian
tentu sangat berpengaruh signifikan terhadap standart kehidupan masyarakat.
Mereka, mau tidak mau senantiasa berusaha berpikir progresif sebagai respons
terhadap perkembangan dan tuntutan zaman.
Ali Ashrof menyatakan bahwa saat ini sudah terjadi pergeseran orientasi
dalam kehidupan, manusia begitu tergila-gila pada prestasi materiil, sukses
duniawia, efesiensi dan kesenangan semu yang mengijinkan pembaharuan teknologi
yang tidak terkontrol dan mengakibatkan penyakit ekologi dan sosial mereka. Sikap
ini sebagai konsekuensi logis ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) tidak diimbangi dengan kedalaman iman dan taqwa.[2]
Di tengah terpaan arus globalisasi, para pakar ramai menyatakan bahwa
dunia akan semakin kompleks dan saling ketergantungan. Dikatakan pula bahwa
perubahan yang akan terjadi dalam bentuk non-linear, tidak bersambung,
dan tidak bisa diramalkan. Masa depan merupakan suatu ketidaksinambungan. Kita
memerlukan pemikiran ulang dan rekayasa ulang terhadap masa depan yang akan
dilewati. Kita berani tampil dengan pemikiran yang terbuka dan meninggalkan
cara-cara lama yang tidak produktif. The road stop here where we go next?
Semua pernyataan tersebut menggambarkan bahwa dunia akan kekurangsiapan dan
sekaligus sebagai dorongan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi
globalisasi.[3]
Fenomena globalisasi banyak melahirkan sifat individualisme dan pola
hidup materialistik yang kian mengental. Disinilah keunikan pondok pesantren
yang masih konsisten dengan menyuguhkan suatu sistem pendidikan yang mampu
menjembatani kebutuhan fisik (jasmani) dan kebutuhan mental spiritual
(rohani) manusia.
Eksistensi pondok pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman, tentunya
memiliki komitmen untuk tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan
sumber daya manusia (SDM) yang handal. Kekuatan otak (berpikir), hati
(keimanan) dan tangan (keterampilan), merupakan modal utama untuk
membentuk pribadi santri yang mampu menyeimbangi perkembangan zaman. Berbagai
kegiatan keterampilan dalam bentuk pelatihan/work-shop (daurah)
yang lebih memperdalam ilmu pengethuan dan keterampilan kerja adalah upaya
untuk menambah wawasan santri di bidang ilmu sosial, budaya dan ilmu praktis,
merupakan salah satu terobosan konkret untuk mempersiapkan individu santri di
lingkungan masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia, pesantren
menjadi tumpuan harapan. Menurut Nurcholis Madjid, “semboyan mewujudkan
masyarakat madani akan terwujud bila institusi pesantren tanggap atas
perkembangan dunia modern”.[4]
Penilaian Nurcholis Madjid itu merupakan penilaian bersyarat, artinya
pesantren harus tanggap terhadap perkembangan dunia modern. Persyaratan ini
sebenarnya berfungsi juga sebagai
tantangan yang perlu direspon oleh pesantren. Pesantren tidak bisa mengelak
dari tanggung jawab menghadapi tantangan tersebut, karena jika mengelak, resiko
yang ditanggung pesantren tidaklah kecil. Santri maupun alumni pesantren bisa
gagap menghadapi perubahan global yang berkembang dengan cepat. Mastuhu menilai
bahwa akibat dari pengaruh globalisasi, pesantren tidak bisa menutup diri dari
perubahan sosial yang begitu cepat.[5] Realita
semacam ini memang terasa sebagai suatu dilema yang tidak mudah dipecahkan oleh
pesantren. Pesantren tidak bisa bersikap isolatif dalam mengadapi berbagai tantangan
tersebut. Respon yang positif adalah
dengan memberikan banyak alternatif yang berorientasi pada pemberdayaan santri
dalam menghadapi era global yang membawa berbagai persoalan semakin kompleks
sekarang ini.
Dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di lingkungan
masyarakat, maka pondok pesantren harus berani tampil dan mengembangkan dirinya
sebagai pusat keunggulan. Pondok pesantren tidak hanya mendidik santri agar
memiliki ketangguhan jiwa (taqwimu al-nafs), jalan hidup yang lurus,
budi pekerti yang mulia, tetapi juga santri yang dibekali dengan berbagai
disiplin ilmu keterampilan lainnya, guna dapat diwujudkan dan mengembangkan segenap
kualitas yang dimilikinya.
Untuk mencapai tujuan di atas, para santri harus dibekali sejumlah nilai
keislaman yang dipadukan dengan keterampilan. Pembekalan ilmu dan keterampilan
dapat ditempuh dengan mempelajari tradisi ilmu pengetahuan agama dan penggalian
dari teknologi keterampilan umum. Di sinilah peran pesantren perlu
ditingkatkan. Tuntutan globalisasi tidak mungkin dihindari. Salah satu langkah
yang bijak adalah mempersiapkan pesantren tidak "ketinggalan kereta” agar tidak kalah dalam persaingan. Pada
tataran ini masih banyak pembenahan dan perbaikan yang harus dilakukan oleh
pondok pesantren. Paling tidak tiga hal yang mesti digarap oleh pondok
pesantren yang sesuai dengan jati dirinya.
Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan pengkaderan ulama.
Fungsi ini tetap harus melekat pada pesantren, karena pesantren adalah
satu-satunya lembaga pendidikan yang melahirkan ulama. Namun demikian, tuntutan
modernisasi dan globalisasi mengharuskan ulama memiliki kemampuan lebih,
kapasitas intelektual yang memadai, wawasan, akses pengetahuan dan informasi
yang cukup serta responsif terhadap perkembangan dan perubahan. Kedua,
pesantren sebagai lembaga pengembangan ilmu pengetahuan khusus agama Islam.
Pada tatanan ini, pesantren masih dianggap lemah dalam penguasaan ilmu dan
metodologi. Pesantren hanya mengajarkan ilmu agama dalam arti transfer of
knowledge. Karena pesantren harus jelas memiliki potensi sebagai
"lahan" pengembangan ilmu agama. Ketiga, dunia pesantren harus
mampu menempatkan dirinya sebagai transformasi, motivator, dan inovator.[6]
Walaupun pada dasarnya pesantren merupakan lembaga pendidikan yang lebih
berorientasi pada ”al-tafaqquh fi al-din”
yakni untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan. Namun, seiring
dengan perubahan zaman maka pesantren juga dituntut untuk menyelenggarakan
pendidikan yang mampu bersaing dengan lembaga pendidikan yang lain dalam upaya
menghadapi tantangan global. Karena pada saat ini tuntutan masyarakat terhadap
pesantren semakin berkembang. Hal ini merupakan kesempatan sekaligus tantangan
bagi lembaga pendidikan pesantren untuk mewujudkan eksistensinya. Dalam hal ini
pesantren diharapkan mampu mencetak figur-figur “ulama’ yang intelek profesional atau intelek profesional yang ulama’”[7]
Berdasarkan landasan peneltian inilah, peneliti ingin mencoba mengetahui
lebih jauh tentang peran Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Kasri Malang
dalam menghadapi tantangan di era globaliasi. Hal ini mengingat bahwa tantangan
yang dihadapi oleh lembaga pendidikan pesantren semakin hari semakin berat dan
semakin kompleks. Disamping itu orientasi masyarakat dahulu dengan masyarakat
sekarang mulai mengalami pergeseran sebagai imbas dari arus globalisasi. Untuk
itu pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu
menjadi garda terdepan dalam menjawab semua tantangan di era globalisasi.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berpedoman dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka pokok
permasalahan yang menjadi pembahasan pada penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut;
1.
Bagaimana sistem pendidikan yang
diterapkan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era
globalisasi?
2.
Bagaimana strategi yang digunakan
Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi?
3.
Apa faktor pendukung dan penghambat
Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi?
C.
TUJUAN PENELITIAN
Merujuk pada latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Untuk mengetahui sistem pendidikan
yang diterapkan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di
era globalisasi.
2.
Untuk mengetahui strategi yang
digunakan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era
globalisasi.
3.
Untuk mengetahui faktor apa saja yang
mendukung dan menghambat Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi
tantangan di era globalisasi.
D.
MANFAAT PENELITIAN
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara
teoritis maupun praktis bagi semua elemen yang secara langsung maupun tak
langsung mempunyai kepentingan dengan hal ini.
a.
Manfaat penelitian secara teoritis
adalah sebagai pengembangan ilmu, sebagai landasan untuk mengembangkan
penelitian yang sejenis dimasa mendatang.
b.
Manfaat penelitian secara
aplikatif yang meliputi:
1.
Bagi peneliti, sebagai wacana
untuk memperdalam cakrawala pemikiran dan pengetahuan, khususnya tentang
strategi lembaga pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan di era
globalisasi.
2.
Bagi pesantren dan masyarakat,
sebagai sumbangsih pemikiran dan informasi tentang strategi lembaga pendidikan
pesantren dalam menghadapi tantangan di era globalisasi., yang sebenarnya perlu
diupayakan oleh lembaga pendidikan pesantren untuk mewujudkan kehidupan yang
integral.
3.
Bagi perkembangan ilmu pendidikan,
penelitian ini diharapkan mampu memberikan wahana dan masukan baru bagi
perkembangan dan konsep pendidikan, terutama pengetahuan tentang perlunya
lembaga pendidikan pesantren menghadapi tantangan di era globalisasi., yang
dalam hal ini perlu adanya antisipasi dan langkah-langkah kongkrit yang harus
dilakukan oleh pesantren.
4.
Bagi praktisi pendidikan,
penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran kepada praktisi
lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren untuk menghadapi tantangan di era
globalisasi dengan melakukan berbagai langkah yang kongkrit.
E.
PENEGASAN ISTILAH
Dalam penelitaian ini, penulis berusaha memberikan gambaran
tentang judul yang disajikan oleh penulis, yakni mengenai stategi lembaga
pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan global. Secara terperinci
penulis memberikan definisi dari sejumlah poin yang dirasa dapat mewakili untuk
memahami dari apa yang penulis sajikan, diantaranya:
§
Strategi, berarti rencana
yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai suatu tujuan khusus.[8]
§
Lembaga, dapat diartikan
sebagai badan atau organisasi (yang tujuannya melakukan suatu penyelidikan
keilmuwan atau melakukan suatu usaha).[9]
§
Respon, berarti tanggapan,
reaksi atau jawaban terhadap sesuatu hal yang muncul.
§
Tantangan, berarti
hal-hal/obyek yang perlu ditanggapi atau dapat juga diartikan sebagai sesuatu
hal yang menggugah tekat untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.[10]
§
Global, dapat diartikan
menyeluruh, seluruhnya, garis besar, secara utuh, dan kesejagatan. Jadi
globalisasi dapat diartikan sebagai pengglobalan seluruh aspek kehidupan,
perwujudan (perubahan) secara menyeluruh aspek kehidupan[11]
F.
RUANG LINGKUP PEMBAHASAN
Agar dalam pembahasan ini tidak terjadi kesalahfahaman, maka penulis
hanya membatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan strategi lembaga pendidikan
pesantren dalam menghadapi tantangan di era globalisasi. (studi kasus di pondok
pesantren Miftahul Huda Gading Kasri Malang), yakni usaha-usaha apa yang
dilakukan baik oleh pihak kyai, ustadz, santri, seiring dengan tantangan yang
dihadapi di era globalisasi. Usaha-usaha tersebut baik pada aspek
pembelajarannya maupun di luar aspek pembelajaran pesantren yang masih ada
kaitannya dengan upaya yang dilakukan pondok pesantren Miftahul Huda Gading
Kasri Malang.
G.
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Dalam penulisan skripsi ini, secara keseluruhan terdiri dari empat bab,
yang masing-masing bab disusun dalam sistematika sebagai berikut:
BAB I Merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah,
ruang lingkup pembahasan, dan sistematika pembahasan
BAB II. Merupakan kajian teoritis, dalam kajian
teoritis ini terbagi menjadi dua sub bab, yaitu sub bab A membahas tentang
lembaga pendidikan pesantren yang mencakup pengertian dan sejarah lahirnya
pesantren, elemen-elemen pesantren, fungsi dan tujuan pesantren,
metodik-didaktik pengajaran pesantren. Sub bab B membahas tentang pendidikan
pesantren dan tantangan di era globalisasi, yang mencakup pengertian era globalisasi,
tuntutan masyarakat global, pesantren dan tantangan multidimensional, serta
strategi pesantren dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.
BAB III. Merupakan
metode penelitian yang mencakup pendekatan
dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber
data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data,
serta tahap-tahap penelitian.
BAB IV.
Paparan dan analisis data penelitian, dalam bab ini terdapat dua
sub bab, yaitu sub bab A yang membahas
sekilas tentang profil Pondok Pesantren Miftahul Huda. Sub bab B memaparkan
tentang upaya Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era
globalisasi, yang mencakup tentang sistem pendidikan yang diterapkan Pondok
Pesantren Miftahul Huda, strategi Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi
tantangan di era globalisasi, serta faktor pendukung dan penghambat Pondok
Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.
BAB V. Penutup,
yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
Dalam segmen ini peneliti akan menyimpulkan hal-hal yang berhubungan
dengan hasil penelitian. Kemudian akan dipaparkan tentang saran-saran yang
merupakan wujud dari tawaran pemikiran alternatif.
DAFTAR PUSTAKA
Ashrof, Ali. Horizon
Baru Pendidikan. (Jakarta: Pustaka Firdaus. 1996)
Anynomous. Biografi Kyai Yahya, Ulama’ Sufi dan
Pejuang Sejati. (Malang: LP3MH. 2002).
Ali, Muhammad. Strategi
Penelitian Pendidikan. (Bandung: Angkasa. 1993)
Arikunto, Suharsimi. Prosedur
Penelitian Ilmiah. (Jakarta: Bina Aksara.1991)
________________. Metode Penelitian suatu Pendekatan
Praktek.( Jakarta: Rineke Cipta. 1993)
________________. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineke Cipta. 2002)
Arifin, M. Kapita Selekta Pendidikan. (Jakarta: Bina Aksara.
1999)
Aisyah, Sitatul
Nur. Pesantren Mahasiswa; Pesantren Masa Depan dalam Menggagas Pesantren
Masa Depan. (Yogyakarta: Qirtas. 2003)
Azra, Azyumardi.
Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos.
1999)
_____________. Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju
Milenium Baru. (Jakarta: Kalimah. 2000)
A. Partanto,
Pius dan M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Popular. (Surabaya:
Arkola.1994)
Bukhori, Muchtar.
Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan. (Jakarta: IKIP Muhammadiyah
Jakarta Press. 1994)
C., Geertz. Abangan,
Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. (Jakarta: Pustaka Jaya. )
Dhofier, Zamakhsyari.
Tradisi Pesantre; Studi Tentang Pandangan
Hidup Kyai. (Jakarta: LP3ES. 1985)
Depag RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah
Pertumbuhan dan Perkembangannya. (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan
Agama Islam. 2003)
________. Pola
Pengembangan Pondok Pesantren. (Jakarta: Proyek Peningkatan Pendidikan Luar
Sekolah Pada Pondok Pesantren. 2003)
Fajar, A. Malik.
Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. (Jakarta: LP3LI. 1998)
____________.
Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam ; Upaya Merespon Dinamika
Masyaraka Global. (Malang: UIN Press. 2004)
Faisal, Jusuf
Amir. Reorientasi Pendidikan Islam. (Jakarta: Gema Insani Press. 1995)
Ghazali, M.
Bahri. Pesantren Berwawasan Lingkungan. Cet. Ke-3. (Jakarta: CV.
Prasasti. 2003)
Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam
di Indonesi;Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada. 1999)
Hadi, Sutrisno. Methode Research. Jilid II. (Yogyakarta: Andi Offset. 1989)
___________. Metodologi Research. Jilid 1.
(Yogyakarta: Yayasan Penerbit UGM. 1994)
http://www.Google.com
7 Mei 2005. Dampak Globalisasi
http://www.pikiran-rakyat.com 7 Mei
2005, Pesantren dan Globalisasi
Madjid, Nurcholis.
Bilik- Bilik Pesantren Sebuah Potret
Perjalanan. (Jakarta: Paramadina. 1992)
______________. Bilik-Bilik Pesantren. (Yogyakarta: Paramadina. 1997)
)
Mahfudz, Sahal. Pesantren
Mancari Makna. (Jakarta: Pustaka Ciganjur. 1999)
Mastuhu. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam.
(Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999)
______. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam.
(Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999
Moleong, Lexi. Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung:
Rosdakarya. 2000)
Mardalis. Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Proposal.
(Jakarta: Bumi Aksara. 2003)
Purwadarminto, W.J.S. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
(Jakarta: Balai Pustaka. tt)
Qomar,
Mujammil. Pesantren: Dari Transformasi Metadologis Menuju Demokaratis.
(Jakarta: Erlangga. 2002)
Rahardjo, Dawam (ed). Pesantren dan
Pembaharuan. ( Jakarta: LP3ES. 1983)
Suryabrata,
Sumadi. Metode Penelitian. (Jakarta: PT. Raja Grafindo. 1987)
Sudjana, Nana, Ibrahim. Penelitian dan Penelitian
Pendidikan, ( Bandung: Sinar Baru. 1989)
Suprayogo, Imam.
Reformulasi Visi Pendidikan Islam.
(Malang: STAIN Malang Press. 1999)
Tilar, HR. Paradigma
Baru Pendidikan
Nasional. (Jakarta:
Rineke Cipta. 2000)
Usa, Muslih. Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial.
(Yogyakarta: Aditya Media. 1997)
Wahid, Abdurrahman.
Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren. (Yogyakarta: LIKIS. 2001)
Wahid, Marzuki (ed). Pesantren Masa Depan; Wahana Pemberdayaan dan
Transformasi Pesantren. (Bandung: Pustaka Hidayah. 1999)
Yakub, M. Pondok
Pesantren dan Pengembangan Masyarakat. (Bandung: Bumi Aksara, 1983)
Zaini, A. Wahid. Dunia Pemikiran Kaum Santri.
(Yogyakarta: LKPSM. 1994)
[1] Muslih
Usa, Pendidikan Islam Dalam Peradaban
Industrial, (Yogyakarta: Aditya Media, 1997), hlm. 10
[2]
Ali Ashrof, Horizon Baru Pendidikan,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), hlm. 17
[3]
http://www.Google.com 7 Mei 2005, Dampak
Globalisasi
[4]
Nurcholis Madjid, Bilik- Bilik Pesantren
Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 95-96
[5] Mastuhu,
Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam,
(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 123
[6] http://www.pikiran-rakyat.com
7 Mei 2005, Pesantren dan Globalisasi
[7] Imam
Suprayogo, Reformulasi Visi Pendidikan
Islam, (Malang: STAIN Malang Press, 1999), hlm. 170
[8] Pius A.
Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Popular, (Surabaya:
Arkola, 1994), hlm. 859
[9]
Ibid., hlm. 512
[10]
Ibid., hlm. 901
[11]
Ibid., hlm. 203