Gunakan Untuk Mencari Judul

Memuat...
Semua File Kami kirim Terlebih Dulu, Cukup Ganti oprasional Kami, Setelah File Terkirim.

Minggu, 09 September 2012

STRATEGI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA SANTRI



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sosial kemanusian, pendidikan bukan hanya sebagai suatu upaya untuk melahirkan proses pembelajaran yang bermaksud membawa manusia menjadi sosok yang potensial secara intelektual (intellectual-oriented) melalui proses transfer of knowledge yang kental. Akan tetapi, proses tersebut juga bermuara pada upaya pembentukan masyarakat yang berwatak, beretika, dan estetika melalui proses transfer of values yang terkandung didalamnya.
Muatan upaya yang dibawa dalam proses pendewasaan manusia seperti yang dimaksud diatas, merupakan proses yang padu dan komprehensif. Masyarakat ingin diarahkan menjadi masyarakat yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), namun tidak meniscayakan aspek normatif yang begitu jelas pula peranannya dalam menentukan suatu model kehidupan sosial yang humanis.
Dalam konteks ini, tampak nyata bahwa tujuan pendidikan khususnya pendidikan Islam berupaya untuk mengembangkan setiap aspek kehidupan manusia. Aspek-aspek tersebut meliputi: spiritual, intelektual, imajinasi, keilmiahan.[1] Hal itu juga berarti pula bahwa beban yang dipikul oleh lembaga pendidikan Islam akan semakin berat. Apalagi jika dikaitkan dengan tujuan pendidikan Islam yang yang bermaksud membahagiakan manusia di dunia dan akhirat.
Memasuki abad ke-21, berbagai perkembangan dan perubahan telah dan sedang terjadi dengan sangat cepat dalam semua aspek kehidupan manusia. Perkembangan sains-teknologi, penyebaran arus informasi dan perjumpaan budaya dapat menggiring kecenderungan masyarakat untuk berpikir rasional, bersikap inklusif dan berperilaku adaptif. Mereka semacam dihadapkan pada berbagai pilihan baru yang menarik dan cukup menggoda untuk mengikutinya. Masyarakat sekarang begitu intens terhadap perubahan-perubahan baik menyangkut pola pikir, pola hidup, kebutuhan sehari-hari hingga proyeksi kebutuhan masa depan. Kondisi demikian tentu sangat berpengaruh signifikan terhadap standart kehidupan masyarakat. Mereka, mau tidak mau senantiasa berusaha berpikir progresif sebagai respons terhadap perkembangan dan tuntutan zaman.
Ali Ashrof menyatakan bahwa saat ini sudah terjadi pergeseran orientasi dalam kehidupan, manusia begitu tergila-gila pada prestasi materiil, sukses duniawia, efesiensi dan kesenangan semu yang mengijinkan pembaharuan teknologi yang tidak terkontrol dan mengakibatkan penyakit ekologi dan sosial mereka. Sikap ini sebagai konsekuensi logis ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak diimbangi dengan kedalaman iman dan taqwa.[2]
Di tengah terpaan arus globalisasi, para pakar ramai menyatakan bahwa dunia akan semakin kompleks dan saling ketergantungan. Dikatakan pula bahwa perubahan yang akan terjadi dalam bentuk non-linear, tidak bersambung, dan tidak bisa diramalkan. Masa depan merupakan suatu ketidaksinambungan. Kita memerlukan pemikiran ulang dan rekayasa ulang terhadap masa depan yang akan dilewati. Kita berani tampil dengan pemikiran yang terbuka dan meninggalkan cara-cara lama yang tidak produktif. The road stop here where we go next? Semua pernyataan tersebut menggambarkan bahwa dunia akan kekurangsiapan dan sekaligus sebagai dorongan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi globalisasi.[3]
Fenomena globalisasi banyak melahirkan sifat individualisme dan pola hidup materialistik yang kian mengental. Disinilah keunikan pondok pesantren yang masih konsisten dengan menyuguhkan suatu sistem pendidikan yang mampu menjembatani kebutuhan fisik (jasmani) dan kebutuhan mental spiritual (rohani) manusia.
Eksistensi pondok pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman, tentunya memiliki komitmen untuk tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Kekuatan otak (berpikir), hati (keimanan) dan tangan (keterampilan), merupakan modal utama untuk membentuk pribadi santri yang mampu menyeimbangi perkembangan zaman. Berbagai kegiatan keterampilan dalam bentuk pelatihan/work-shop (daurah) yang lebih memperdalam ilmu pengethuan dan keterampilan kerja adalah upaya untuk menambah wawasan santri di bidang ilmu sosial, budaya dan ilmu praktis, merupakan salah satu terobosan konkret untuk mempersiapkan individu santri di lingkungan masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia, pesantren menjadi tumpuan harapan. Menurut Nurcholis Madjid, “semboyan mewujudkan masyarakat madani akan terwujud bila institusi pesantren tanggap atas perkembangan dunia modern”.[4]
Penilaian Nurcholis Madjid itu merupakan penilaian bersyarat, artinya pesantren harus tanggap terhadap perkembangan dunia modern. Persyaratan ini sebenarnya berfungsi juga  sebagai tantangan yang perlu direspon oleh pesantren. Pesantren tidak bisa mengelak dari tanggung jawab menghadapi tantangan tersebut, karena jika mengelak, resiko yang ditanggung pesantren tidaklah kecil. Santri maupun alumni pesantren bisa gagap menghadapi perubahan global yang berkembang dengan cepat. Mastuhu menilai bahwa akibat dari pengaruh globalisasi, pesantren tidak bisa menutup diri dari perubahan sosial yang begitu cepat.[5] Realita semacam ini memang terasa sebagai suatu dilema yang tidak mudah dipecahkan oleh pesantren. Pesantren tidak bisa bersikap isolatif dalam mengadapi berbagai tantangan tersebut. Respon yang positif  adalah dengan memberikan banyak alternatif yang berorientasi pada pemberdayaan santri dalam menghadapi era global yang membawa berbagai persoalan semakin kompleks sekarang ini.
Dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di lingkungan masyarakat, maka pondok pesantren harus berani tampil dan mengembangkan dirinya sebagai pusat keunggulan. Pondok pesantren tidak hanya mendidik santri agar memiliki ketangguhan jiwa (taqwimu al-nafs), jalan hidup yang lurus, budi pekerti yang mulia, tetapi juga santri yang dibekali dengan berbagai disiplin ilmu keterampilan lainnya, guna dapat diwujudkan dan mengembangkan segenap kualitas yang dimilikinya.
Untuk mencapai tujuan di atas, para santri harus dibekali sejumlah nilai keislaman yang dipadukan dengan keterampilan. Pembekalan ilmu dan keterampilan dapat ditempuh dengan mempelajari tradisi ilmu pengetahuan agama dan penggalian dari teknologi keterampilan umum. Di sinilah peran pesantren perlu ditingkatkan. Tuntutan globalisasi tidak mungkin dihindari. Salah satu langkah yang bijak adalah mempersiapkan pesantren tidak "ketinggalan kereta” agar tidak kalah dalam persaingan. Pada tataran ini masih banyak pembenahan dan perbaikan yang harus dilakukan oleh pondok pesantren. Paling tidak tiga hal yang mesti digarap oleh pondok pesantren yang sesuai dengan jati dirinya.
Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan pengkaderan ulama. Fungsi ini tetap harus melekat pada pesantren, karena pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang melahirkan ulama. Namun demikian, tuntutan modernisasi dan globalisasi mengharuskan ulama memiliki kemampuan lebih, kapasitas intelektual yang memadai, wawasan, akses pengetahuan dan informasi yang cukup serta responsif terhadap perkembangan dan perubahan. Kedua, pesantren sebagai lembaga pengembangan ilmu pengetahuan khusus agama Islam. Pada tatanan ini, pesantren masih dianggap lemah dalam penguasaan ilmu dan metodologi. Pesantren hanya mengajarkan ilmu agama dalam arti transfer of knowledge. Karena pesantren harus jelas memiliki potensi sebagai "lahan" pengembangan ilmu agama. Ketiga, dunia pesantren harus mampu menempatkan dirinya sebagai transformasi, motivator, dan inovator.[6]
Walaupun pada dasarnya pesantren merupakan lembaga pendidikan yang lebih berorientasi pada ”al-tafaqquh fi al-din” yakni untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan. Namun, seiring dengan perubahan zaman maka pesantren juga dituntut untuk menyelenggarakan pendidikan yang mampu bersaing dengan lembaga pendidikan yang lain dalam upaya menghadapi tantangan global. Karena pada saat ini tuntutan masyarakat terhadap pesantren semakin berkembang. Hal ini merupakan kesempatan sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan pesantren untuk mewujudkan eksistensinya. Dalam hal ini pesantren diharapkan mampu mencetak figur-figur “ulama’ yang intelek profesional atau intelek profesional yang ulama’”[7]
Berdasarkan landasan peneltian inilah, peneliti ingin mencoba mengetahui lebih jauh tentang peran Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Kasri Malang dalam menghadapi tantangan di era globaliasi. Hal ini mengingat bahwa tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan pesantren semakin hari semakin berat dan semakin kompleks. Disamping itu orientasi masyarakat dahulu dengan masyarakat sekarang mulai mengalami pergeseran sebagai imbas dari arus globalisasi. Untuk itu pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menjawab semua tantangan di era globalisasi.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berpedoman dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka pokok permasalahan yang menjadi pembahasan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut;
1.      Bagaimana sistem pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi?
2.      Bagaimana strategi yang digunakan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi?
3.      Apa faktor pendukung dan penghambat Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi?

C.    TUJUAN PENELITIAN
Merujuk pada latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka  penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Untuk mengetahui sistem pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.
2.      Untuk mengetahui strategi yang digunakan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.
3.      Untuk mengetahui faktor apa saja yang mendukung dan menghambat Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.

D.    MANFAAT  PENELITIAN
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi semua elemen yang secara langsung maupun tak langsung mempunyai kepentingan dengan hal ini.
a.       Manfaat penelitian secara teoritis adalah sebagai pengembangan ilmu, sebagai landasan untuk mengembangkan penelitian yang sejenis dimasa mendatang.
b.      Manfaat penelitian secara aplikatif yang meliputi:
1.      Bagi peneliti, sebagai wacana untuk memperdalam cakrawala pemikiran dan pengetahuan, khususnya tentang strategi lembaga pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.
2.      Bagi pesantren dan masyarakat, sebagai sumbangsih pemikiran dan informasi tentang strategi lembaga pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan di era globalisasi., yang sebenarnya perlu diupayakan oleh lembaga pendidikan pesantren untuk mewujudkan kehidupan yang integral.
3.      Bagi perkembangan ilmu pendidikan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan wahana dan masukan baru bagi perkembangan dan konsep pendidikan, terutama pengetahuan tentang perlunya lembaga pendidikan pesantren menghadapi tantangan di era globalisasi., yang dalam hal ini perlu adanya antisipasi dan langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan oleh pesantren.
4.      Bagi praktisi pendidikan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran kepada praktisi lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren untuk menghadapi tantangan di era globalisasi dengan melakukan berbagai langkah yang kongkrit.

E.     PENEGASAN ISTILAH
Dalam penelitaian ini, penulis berusaha memberikan gambaran tentang judul yang disajikan oleh penulis, yakni mengenai stategi lembaga pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan global. Secara terperinci penulis memberikan definisi dari sejumlah poin yang dirasa dapat mewakili untuk memahami dari apa yang penulis sajikan, diantaranya:
§  Strategi, berarti rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai suatu tujuan khusus.[8]
§  Lembaga, dapat diartikan sebagai badan atau organisasi (yang tujuannya melakukan suatu penyelidikan keilmuwan atau melakukan suatu usaha).[9]
§  Respon, berarti tanggapan, reaksi atau jawaban terhadap sesuatu hal yang muncul.
§  Tantangan, berarti hal-hal/obyek yang perlu ditanggapi atau dapat juga diartikan sebagai sesuatu hal yang menggugah tekat untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.[10]
§  Global, dapat diartikan menyeluruh, seluruhnya, garis besar, secara utuh, dan kesejagatan. Jadi globalisasi dapat diartikan sebagai pengglobalan seluruh aspek kehidupan, perwujudan (perubahan) secara menyeluruh aspek kehidupan[11]

F.     RUANG LINGKUP PEMBAHASAN
Agar dalam pembahasan ini tidak terjadi kesalahfahaman, maka penulis hanya membatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan strategi lembaga pendidikan pesantren dalam menghadapi tantangan di era globalisasi. (studi kasus di pondok pesantren Miftahul Huda Gading Kasri Malang), yakni usaha-usaha apa yang dilakukan baik oleh pihak kyai, ustadz, santri, seiring dengan tantangan yang dihadapi di era globalisasi. Usaha-usaha tersebut baik pada aspek pembelajarannya maupun di luar aspek pembelajaran pesantren yang masih ada kaitannya dengan upaya yang dilakukan pondok pesantren Miftahul Huda Gading Kasri Malang.


G.    SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Dalam penulisan skripsi ini, secara keseluruhan terdiri dari empat bab, yang masing-masing bab disusun dalam sistematika sebagai berikut:
            BAB I       Merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, ruang lingkup pembahasan, dan sistematika pembahasan
BAB II.  Merupakan kajian teoritis, dalam kajian teoritis ini terbagi menjadi dua sub bab, yaitu sub bab A membahas tentang lembaga pendidikan pesantren yang mencakup pengertian dan sejarah lahirnya pesantren, elemen-elemen pesantren, fungsi dan tujuan pesantren, metodik-didaktik pengajaran pesantren. Sub bab B membahas tentang pendidikan pesantren dan tantangan di era globalisasi, yang mencakup pengertian era globalisasi, tuntutan masyarakat global, pesantren dan tantangan multidimensional, serta strategi pesantren dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.

BAB III.   Merupakan metode penelitian yang mencakup pendekatan  dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, serta tahap-tahap penelitian.

BAB IV.  Paparan dan analisis data penelitian, dalam bab ini terdapat dua sub  bab, yaitu sub bab A yang membahas sekilas tentang profil Pondok Pesantren Miftahul Huda. Sub bab B memaparkan tentang upaya Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi, yang mencakup tentang sistem pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Miftahul Huda, strategi Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi, serta faktor pendukung dan penghambat Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.
BAB V.    Penutup, yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
Dalam segmen ini peneliti akan menyimpulkan hal-hal yang berhubungan dengan hasil penelitian. Kemudian akan dipaparkan tentang saran-saran yang merupakan wujud dari tawaran pemikiran alternatif.
 
DAFTAR PUSTAKA


Ashrof, Ali. Horizon Baru Pendidikan. (Jakarta: Pustaka Firdaus. 1996)
Anynomous. Biografi Kyai Yahya, Ulama’ Sufi dan Pejuang Sejati. (Malang: LP3MH. 2002).
Ali, Muhammad. Strategi Penelitian Pendidikan. (Bandung: Angkasa. 1993)
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Ilmiah. (Jakarta: Bina Aksara.1991)
________________. Metode Penelitian suatu Pendekatan Praktek.( Jakarta: Rineke Cipta. 1993)
________________. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: Rineke Cipta. 2002)
Arifin, M. Kapita Selekta Pendidikan. (Jakarta: Bina Aksara. 1999)
Aisyah, Sitatul Nur. Pesantren Mahasiswa; Pesantren Masa Depan dalam Menggagas Pesantren Masa Depan. (Yogyakarta: Qirtas. 2003)
Azra, Azyumardi. Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos. 1999)
_____________. Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. (Jakarta: Kalimah. 2000)
A. Partanto, Pius dan M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Popular. (Surabaya: Arkola.1994)
Bukhori, Muchtar. Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan. (Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press. 1994)
C., Geertz. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. (Jakarta: Pustaka Jaya. )
Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantre; Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. (Jakarta: LP3ES. 1985)
Depag  RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 2003)
________. Pola Pengembangan Pondok Pesantren. (Jakarta: Proyek Peningkatan Pendidikan Luar Sekolah Pada Pondok Pesantren. 2003)
Fajar, A. Malik. Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. (Jakarta: LP3LI. 1998)
____________. Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam ; Upaya Merespon Dinamika Masyaraka Global. (Malang: UIN Press. 2004)
Faisal, Jusuf Amir. Reorientasi Pendidikan Islam. (Jakarta: Gema Insani Press. 1995)
Ghazali, M. Bahri. Pesantren Berwawasan Lingkungan. Cet. Ke-3. (Jakarta: CV. Prasasti. 2003)
Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesi;Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1999)
Hadi, Sutrisno. Methode Research. Jilid II. (Yogyakarta: Andi Offset. 1989)
___________. Metodologi Research. Jilid 1. (Yogyakarta: Yayasan Penerbit UGM. 1994)
http://www.Google.com 7 Mei 2005. Dampak Globalisasi
http://www.pikiran-rakyat.com 7 Mei 2005, Pesantren dan Globalisasi
Madjid, Nurcholis. Bilik- Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan. (Jakarta: Paramadina. 1992)
______________.  Bilik-Bilik Pesantren.  (Yogyakarta: Paramadina. 1997)
)
Mahfudz, Sahal. Pesantren Mancari Makna. (Jakarta: Pustaka Ciganjur. 1999)
Mastuhu. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999)
______. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999
Moleong, Lexi. Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung: Rosdakarya. 2000)
Mardalis. Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Proposal. (Jakarta: Bumi Aksara. 2003)
Purwadarminto, W.J.S. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka. tt)
Qomar, Mujammil. Pesantren: Dari Transformasi Metadologis Menuju Demokaratis. (Jakarta: Erlangga. 2002)
Rahardjo, Dawam (ed). Pesantren dan Pembaharuan. ( Jakarta: LP3ES. 1983)
Suryabrata, Sumadi. Metode Penelitian. (Jakarta: PT. Raja Grafindo. 1987)
Sudjana, Nana, Ibrahim. Penelitian dan Penelitian Pendidikan, ( Bandung: Sinar Baru. 1989)
Suprayogo, Imam. Reformulasi Visi Pendidikan Islam. (Malang: STAIN Malang Press. 1999)
Tilar, HR. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. (Jakarta: Rineke Cipta. 2000)
Usa, Muslih. Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial. (Yogyakarta: Aditya Media. 1997)
Wahid, Abdurrahman. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren.  (Yogyakarta: LIKIS. 2001)
Wahid, Marzuki (ed). Pesantren Masa Depan; Wahana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. (Bandung: Pustaka Hidayah. 1999)
Yakub, M. Pondok Pesantren dan Pengembangan Masyarakat. (Bandung: Bumi Aksara, 1983)
Zaini, A. Wahid. Dunia Pemikiran Kaum Santri. (Yogyakarta: LKPSM. 1994)




[1] Muslih Usa, Pendidikan Islam Dalam Peradaban Industrial, (Yogyakarta: Aditya Media, 1997), hlm. 10
[2] Ali Ashrof, Horizon Baru Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), hlm. 17
[3] http://www.Google.com 7 Mei 2005, Dampak Globalisasi
[4] Nurcholis Madjid, Bilik- Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 95-96
[5] Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 123
[6] http://www.pikiran-rakyat.com 7 Mei 2005, Pesantren dan Globalisasi
[7] Imam Suprayogo, Reformulasi Visi Pendidikan Islam, (Malang: STAIN Malang Press, 1999), hlm. 170
[8] Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Popular, (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 859
[9] Ibid., hlm. 512
[10] Ibid., hlm. 901
[11] Ibid., hlm. 203
Poskan Komentar

Arsip File